Sering kita tidak sadari ketika kita menderita sebuah Penyakit Autoimun, ini merupakan sebuah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang tubuhnya sendiri. Normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. Sistem kekebalan tubuh akan melepaskan protein yang disebut autoantibodi untuk menyerang sel-sel tubuh yang sehat.
Gejala awal penyakit autoimun pada umumnya adalah kondisi tubuh yang sering kelelahan, pegal otot, ruam dikulit, kulit kering dan bersisik, demam, rambut rontok, kesemutan, kesulitan untuk berkonsentrasi, sariawan, bengkak pada tungkai, sakit kepala, kejang, nyeri dada, sesak napas, pucat, dan bahkan sampai dengan perdarahan.
Gejala penyakit autoimun dapat mengalami peningkatan secara tajam dan tiba-tiba (Flare), gejala ini bisa timbul karena dipicu oleh beberapa faktor misalnya paparan sinar matahari, kondisi pikiran, stress, depresi, alergi, dan kelelahan tubuh.
Penyakit ini tidak mudah untuk didiagnosa karena gejala yang muncul bisa serupa, jadi perlu dilakukan beberapa tes seperti tes ANA (antinuclear antibody) dan tes-tes lain untuk mengetahui peradangan yang mungkin ditimbulkan penyakit autoimun.
Kebanyakan dari penyakit autoimun belum dapat disembuhkan, namun gejala yang timbul dapat ditekan dan dijaga agar tidak memburuk. Untuk mengatasi nyeri, penderita bisa mengkonsumsi aspirin atau ibuprofen. Pasien juga bisa menjalani terapi pengganti hormon jika menderita penyakit autoimun yang menghambat produksi hormon dalam tubuh.
Beberapa obat penekan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid dapat digunakan untuk membantu menghambat perkembangan penyakit dan memelihara fungsi organ tubuh. Obat jenis anti TNF juga dapat digunakan untuk mencegah peradangan yang diakibatkan penyakit autoimun. Pengobatan penyakit autoimun berpotensi menghabiskan biaya yang tidak sedikit dan mungkin perlu dilakukan secara berkelanjutan.